
CILEGON-PARLEMEN.COM, Suasana khidmat dan penuh nostalgia mewarnai acara Haul KH Qomarudin yang dibalut dengan Reuni Akbar Alumni Madrasah Al-Khairiyah Karang Tengah, Sabtu (19/7/2025).
Namun, satu momen istimewa mencuri perhatian: peluncuran buku bertajuk Cahaya Santri, sebuah karya yang merangkum jejak intelektual dan spiritual para alumni serta guru-guru besar di madrasah yang dulunya berdiri tenang di tengah hamparan sawah, Kelurahan Pabean, Cilegon.
Acara yang digelar Yayasan Al – Khairiyah Banu Al-Qomar ini dipimpin oleh Ayatulloh Marsai sebagai ketua panitia. Momentum peluncuran buku ini menjadi semacam penanda bahwa kisah-kisah dari lembaga pendidikan kecil di pinggir kota pun bisa menginspirasi secara nasional.
Jejak Guru Besar, dari Nahwu hingga Fikih
Salah satu penulis Cahaya Santri, Dr. Hasani Ahmad Said—alumni sekaligus akademisi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta—menyebut buku ini sebagai penghormatan kepada dua figur penting: KH Qomarudin dan KH Hasbullah. Keduanya adalah pendiri dan penggerak utama madrasah yang dikenal dengan kedalaman ilmu keagamaannya.
“Buku ini lahir dari kegelisahan kolektif alumni untuk mendokumentasikan nilai-nilai ilmu dan tradisi pendidikan yang diwariskan para guru. Mereka mengajarkan tafsir, fikih, nahwu, dan ilmu-ilmu Islam lainnya dengan cara yang membekas seumur hidup,” ujar Hasani.
Ia menambahkan, Cahaya Santri juga menjadi pengingat akan pentingnya merawat tradisi keilmuan yang nyaris padam, dan kini perlahan dihidupkan kembali lewat literasi.
Dari Tengah Sawah ke London dan DPR RI
Tak hanya tokoh tua, kisah alumni muda turut disorot dalam buku ini. Ferdyan Ananta, salah satu alumni, kini tengah menempuh studi di London. Dalam testimoni yang dimuat dalam buku, ia menyebut bahwa gerbang pendidikan internasional yang ia tapaki berawal dari madrasah kecil di tengah sawah itu.
“Saya belajar disiplin, keuletan, dan dasar-dasar ilmu agama dari sekolah ini. Itu modal awal yang membentuk mental saya saat melanjutkan studi ke luar negeri,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Nurdin Sibaweh, Staf ahli Komisi X DPR RI , juga mengenang masa-masa belajarnya di madrasah tersebut sebagai fase penting yang membentuk karakter dan orientasi sosialnya.
“Ilmu yang saya dapat dari madrasah ini masih menjadi pijakan hingga hari ini,” ucap Nurdin.
Menuju Perpustakaan Nasional dan Platform Digital
Buku Cahaya Santri rencananya akan diterbitkan melalui penerbit nasional seperti Hamzah Bumi Aksara dan Rajawali Pers—dua penerbit yang dikenal turut mempopulerkan karya tokoh-tokoh nasional seperti Cak Nur dan Azyumardi Azra.
Menariknya, buku ini juga akan tersedia dalam format e-book dan bisa diakses melalui Google Playstore. Dengan begitu, Cahaya Santri bisa dibaca oleh siapa pun—dari kalangan orang tua hingga anak muda Gen Z—kapan saja, di mana saja.
Tak Sekadar Buku, Tapi Gerakan
Peluncuran Cahaya Santri bukan semata seremoni penerbitan buku. Ini adalah simbol bahwa alumni madrasah pun bisa bersuara, mendokumentasikan sejarah, dan membagikan inspirasi. Sebuah perlawanan halus terhadap amnesia kolektif atas peran pendidikan akar rumput.
“Ini bukan soal nostalgia. Ini soal keberlanjutan,” tegas Hasani.
(Yan/Red*)

Tidak ada komentar